Badan Karantina Pertanian
 

Jalin Kerjasama, Barantan Tembus Pasar Ekspor

Administrator 27 April 2018 488

Makassar - Badan Karantina Pertanian menggelar acara Workshop Pemanfaatan Kerjasama SPS ASEAN dan Sub Regional (23/4) yang dibuka secara resmi oleh Dr. Arifin Tasrif, Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan (Kapus KKIP) yang juga mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian. Dalam sambutannya Kapus KKIP berharap melalui kegiatan Workshop ini akan terjalin komunikasi antar pemerintah, pelaku usaha termasuk petani guna meningkatkan mutu (kualitas) produk pertanian di daerah dan memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan pangan, sehingga nantinya akan mempunyai nilai tambah dan berdaya saing ekspor.

Workshop yang digelar selama 3 hari (23-25 April 2018) bertempat di Hotel Arya Duta Makassar mengangkat tema “Pemanfaatan Kerjasama SPS ASEAN (MEA), Sub Regional (BIMP EAGA) dan RCEP guna Mendukung Peningkatan Akses Pasar dan Daya Saing Produk Pertanian” bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan potensi dari hulu ke hilir menembus akses pasar internasional terutama untuk produk pertanian unggulan di Indonesia seperti jagung, kakao, kopi, kelapa, kelapa sawit, cengkeh, jambu mete, lada, tebu, dll.  

Untuk itu, masing-masing sektor perlu dibekali dengan pemahaman dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis & Critical Control Point (HACCP), manajemen usaha, pengendalian hama dan penyakit yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk pertanian unggulan.

Dalam meningkatkan potensi ekspor komoditas pertanian suatu daerah, diperlukan sinergisme antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Pelaku Usaha (termasuk asosiasi dan petani) melalui komunikasi transparan, penetapan kebijakan dan pengembangan komoditas pertanian unggulan secara total dari hulu ke hilir. 

Terkait pengembangan komoditas pertanian unggulan di daerah, perlu dilakukan upaya pembenahan yang meliputi: (a) peningkatan kualitas SDM pertanian dengan mensinergikan sektor pendidikan dan pertanian; (b) kesinambungan sustainable di bidang on farm; (c) menghilangkan ego-sektoral K/L terkait yang dapat menghambat akselerasi ekspor dengan membuat kebijakan yang bersifat multi dimensi; dan (d) pembaharuan kebijakan/regulasi.

Workshop yang dihadiri  lebih kurang 100 orang peserta ini berasal dari pelaku usaha/eksportir, Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina di wilayah Sulawesi, serta dari Kementerian/Lembaga terkait  seperti Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kadin, dan Bulog) dan Asosiasi. Hadir sebagai Narasumber dalam workshop dari Direktorat Antar dan Sub Regional-Kementerian Perdagangan, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian-Kementerian Pertanian dan Pusat Kepatuhan Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan-Kementerian Pertanian.

Sebagai tindak lanjut dalam workshop tersebut, perlu dilakukan pemetaan produk pertanian unggulan untuk kontiniutas produk, penerapan standard sanitary dan phytosanitary agar dapat menembus pasar internasional terutama mampu bersaing dengan produk-produk pertanian ASEAN lainya. (Heppi S Tarigan, Pusat KKIP/pkd).

 

Materi Workshop dapat didownload pada link di bawah ini:

http://karantina.pertanian.go.id/pengumuman-587-materi-workshop-pemanfaatan-kerjasama-sps-asean-dan-sub-regional-di-sulsel.html

 


Related Post