Badan Karantina Pertanian
 

Karantina Jamah Pulau Wetar

Administrator 11 Juli 2018 132

Maluku (9/7). Pernah mendengar Pulau Wetar? Wetar ya, bukan 'cetar'. Wetar, merupakan salah satu pulau di Maluku Barat Daya. Termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia, Wetar berbatasan laut dengan Timorleste. Dari Australia pun tidak terlalu jauh.

Kali ini, karantina lakukan ekspedisi ke Pulau Wetar. Dalam rangka #141KarantinaMelayani - Bulan Bakti Karantina Pertanian Tahun 2018, tim KKIP bergerak ke Pulau Wetar untuk menggali potensi wilayah dan kehidupan di pulau ini.

Tim ekspedisi bertemu dengan tokoh masyarakat, camat, lurah, kepolisian, sahbandar, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, petani, peternak, masyarakat, dan pihak pertambangan yang ada di Wetar.

Wetar terdiri atas 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Wetar, Wetar Utara, Wetar Barat, dan Wetar Timur. Dari 4 kecamatan, terdapat 23 desa dimana satu desa ada di pulau sendiri, yaitu Pulau Lirang.

Masyarakat Wetar sangat ramah. Kebanyakan mereka bekerja di perusahaan tambang. Selain itu, banyak juga nelayan, petani, dan peternak. Pertanian dan peternakan di Wetar semakin maju seiring dengan keberadaan perusahaan tambang tembaga di Wetar.

"Masyarakat di Wetar menjual hasil tani dan ternaknya ke perusahan Batutua Tembaga Raya (BTR), selain untuk kebutuhan sendiri. Mereka kami lakukan pembinaan dan pendampingan dalam beternak dan bertani," kata drh Merlin Jacobus, Supervisor External Affair PT. BTR.

"Kami banyak menghasilkan ayam potong, telur, kambing, babi, dan sapi. Sayuran seperti brokoli, kangkung, bayam, kol kepala, dan kelapa juga banyak. Buah juga ada, jeruk dan jambu mede. Tapi kami masih blm bisa menjual ke daerah lain karena transportasi yang belum ada di Wetar," terang Nikodemus, kepala desa Lurang.

Transportasi, rupanya menjadi salah satu kendala di Wetar. Bayangkan, dari 23 desa, hanya ada satu jalan darat. Itupun hanya mampu menghubungkan 2 desa, yaitu Desa Lurang dan Desa Ilwaki. Akses ke desa lainnya? Mereka mengandalkan kapal cepat atau kapal tradisional masyarakat yang juga bergantung pada kondisi ombak yang menantang. Jangan tanya seberapa besar goyangannya. Cukup membuat perut mual!

"Di Wetar ada 4 pelabuhan resmi sebagai tempat sandar kapal perintis dan speed boat, serta pelabuhan khusus tambang milik perusahaan tambang. Kapal perintis terjadwal 7-11 hari sekali sandar di pelabuhan, tergantung kondisi laut," terang Giovanni, kepala Wilker Pelabuhan Leurokis, Wetar Utara.

Koordinasi sudah terjalin baik antarinstansi pemerintah yang ada di Wetar. Memang, baru ada Polsek Wetar (membawahi 4 kecamatan), Pos AL, Koramil, Brimob Khusus PT. BTR, Sahbandar, kantor camat, dan kantor desa di Wetar. Belum ada perwakilan kantor dinas, beacukai, imigrasi, maupun karantina.

"Sampai saat ini belum ada pelayaran resmi baik dari Wetar ke Timorleste maupun Australia dan sebaliknya. Jarak bisa ditempuh hanya 30 menit - 1 jam dari Wetar Barat ke Timorleste. Ke Australia, waktu tempuhnya 1-2 hari saja," tambah Giovanni.

Kendala transportasi inilah yang membuat lalu lintas komoditas pertanian di Wetar masih belum maksimal. Masyarakat masih mengandalkan perusahaan tambang sebagai pasar jual utama. Bahkan, perusahaan tambang harus menanggung kelebihan pasokan produk pertanian dari masyarakat yang akhirnya terbuang.

"Wetar adalah salah satu wajah Indonesia dengan masyarakatnya yang membanggakan. Saya yakin Wetar akan menjadi wajah yang penuh kegembiraan bila semakin maju pertaniannya dengan peningkatan sarana transportasi, komunikasi, instansi pemerintah dan sangat potensial untuk menjadi wilayah perdagangan/transit internasional atau Free Trade Area dimasa mendatang," terang Apris Beniawan bersama Wignya Kusuma, Nanang Handayono, dan Sai'in Purnomo, Tim Ekspedisi Badan Karantina Pertanian ke Pulau Wetar. 

Selamat Bulan Bakti Karantina Pertanian. Indonesia Jaya! (ap)


Related Post