Badan Karantina Pertanian
 

Dongkrak Ekspor Sarang Walet, Barantan Jalankan Program Agro Gemilang

Administrator 01 Februari 2019 342

Jakarta – Pertumbuhan ekspor sarang walet ke Tiongkok terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk terus meningkatkan pasar ekspor sarang walet, Badan Karantina Pertanian mengajak eksportir ataupun petani walet lakukan bimbingan dan pendampingan terhadap ekspor sarang burung walet ke Tiongkok. "Sarang walet jadi salah satu andalan komoditas ekspor negara kita. Penguatan teknis harus terus ditingkatkan, karena itu bimbingan dan pendampingan ini dilakukan untuk membantu para eksportir ataupun petani walet dapat memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh negara Tiongkok," ungkap Iswan, Kepala Bidang Karantina Produk Hewan, Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Hewani (30/1).

Menurut Iswan, salah satu persyaratan teknis yang telah diatur oleh pihak negara Tiongkok, sarang walet harus diproses dengan perlakuan pemanasan mencapai 70 derajat celcius dan dipertahankan selama 3,5 detik. Ini disebabkan sarang burung walet rawan terjangkit virus Avian Influenza atau biasa dikenal dengan virus flu burung, dan virus tersebut akan mati pada suhu tersebut. Sehingga Badan Karantina Pertanian mengawasi secara ketat pemanasan sarang walet dan melakukan pemeriksaan kesesuaian proses pemanasan tersebut setiap kali lakukan tindakan karantina hewan. Melalui bimbingan dan pendampingan ini, Badan Karantina Pertanian menjalankan program Kementerian Pertanian yaitu Agro Gemilang (Ayo Galakan Ekspor Pertanian, Generasi Milenial Bangsa) yang bertujuan menyiapkan dan mendorong para eksportir, petani muda, serta pelaku agribisnis memasuki pasar ekspor. Tercatat sekitar 21 perusahaan eksportir sarang walet yang telah teregristrasi Badan Karantina Pertanian. “Dengan dibekali pemahaman tentang alat dan proses pemanasan sarang walet yang harus dilakukan hingga penyusunan prosedur operasional baku pemanasan serta catatan harian pemanasan sarang walet. Ini menjadi penting untuk memenuhi persyaratan negara tujuan, Tiongkok,” terang Iswan.

Menurut Iswan, Program Agro Gemilang ini juga sejalan dengan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 2732 tahun 2018 yang telah direvisi tentang pedoman verifikasi pemanasan sarang walet untuk pengeluaran ke negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT). “Pedoman baru telah disusun dan pedoman ini sudah harus diimplementasikan mulai 19 Maret 2019 mendatang oleh seluruh eksportir yang melakukan ekspor sarang walet ke Tiongkok,” jelasnya.

Data IQFAST tercatat ekspor sarang walet menunjukan peningkatan yang signifikan tiap tahunnya. Sarang burung walet yang diekspor ke 36 negara ini, memiliki total nilai dagang mencapai Rp 107,2 triliun dengan volume masing – masing sebanyak 700,66 ton pada 2015, 773,22 ton pada 2016, 1.158,15 ton di tahun 2017, dan hingga bulan Oktober 2018 telah mencapai angka 1.135,09 ton.

Dengan adanya program Agro Gemilang, bimbingan teknis ini menjadi agenda tersendiri untuk mendukung dan mendorong para eksportir agar dapat bersaing di pasar dunia. “Bimbingan dan pendampingan ini diharapkan mempermudah para eksportir ataupun petani walet lakukan ekspor sarang walet dan mendongkrak nilai ekspor di manca negara. Sehingga Indonesia jadi pelopor ekspor komoditas sarang walet dengan kadar gizi terbaik di dunia,” pungkas Iswan. (pkd)


Related Post