Badan Karantina Pertanian
 

Impor Tumbuhan dan Produk Tumbuhan

Persyaratan Impor Tumbuhan dan Produk Tumbuhan Ke Indonesia

Persyaratan impor karantina tumbuhan dan produk tumbuhan ditetapkan untuk mengatur pemasukan media pembawa berupa tumbuhan dan/atau hasil tumbuhan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia serta mencegah masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) ke dalam wilayah negara Republik Indonesia.

Pemasukan media pembawa berupa tumbuhan dan/atau hasil tumbuhan yang dimasukkan ke dalam wilayah Republik Indonesia harus memenuhi persyaratan karantina tumbuhan dan kewajiban tambahan.

Badan Karantina Pertanian melakukan Analisis Risiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT) terhadap setiap media pembawa yang pertama kali dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Badan Karantina Pertanian telah melakukan AROPT terhadap lebih dari 500 media pembawa benih (pdf1.) dan lebih dari 50 media pembawa non benih (pdf2.).

A. Persyaratan Karantina Tumbuhan

 

 B. Kewajiban Tambahan

  • Benih dan Bibit

Pemasukan benih dan/atau bibit tumbuhan harus disertai Surat Ijin Pemasukan dari Menteri Pertanian (SIP Mentan) dan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 tahun 2017 (pdf1a, pdf1b) dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 127 tahun 2014 (.pdf2).

 

  • Buah Segar

Selain harus memenuhi persyaratan karantina tumbuhan, pemasukan buah segar ke dalam wilayah negara Republik Indonesia harus:

1. Melalui tempat pemasukan yang ditetapkan, yaitu:

  1. Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya;
  2. Pelabuhan Laut Belawan, Medan;
  3. Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta; dan
  4. Pelabuhan Laut Soekarno Hatta, Makassar.

2. Diberi perlakuan berupa pendinginan (cold treatment) atau iradiasi atau fumigasi dengan metil bromida sesuai Permentan Nomor 42 Tahun 2015 (.pdf3a) (.pdf3b).

  

  • Umbi Lapis Segar

Selain harus memenuhi persyaratan karantina tumbuhan, pemasukan buah segar ke dalam wilayah negara Republik Indonesia harus:

1. Melalui tempat pemasukan yang ditetapkan, yaitu:

  1. Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya;
  2. Pelabuhan Laut Belawan, Medan;
  3. Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta; dan
  4. Pelabuhan Laut Soekarno Hatta, Makassar.

2. Diberi perlakuan berupa fumigasi dengan metil bromida atau iradiasi sesuai Permentan Nomor 43 Tahun 2015 (.pdf4, .pdf5).

 

  • Umbi Lapis Segar berupa Bawang Putih

Selain harus memenuhi persyaratan karantina tumbuhan, pemasukan buah segar ke dalam wilayah negara Republik Indonesia harus:

1. Melalui tempat pemasukan yang ditetapkan, yaitu:

  1. Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya;
  2. Pelabuhan Laut Belawan, Medan;
  3. Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta; dan
  4. Pelabuhan Laut Soekarno Hatta, Makassar.

2. Diberi perlakuan berupa fumigasi dengan metil bromida atau iradiasi sesuai Permentan Nomor 43 Tahun 2015 dan Permentan Nomor 20 tahun 2017 (.pdf6).

 

  • Produk Kayu berupa Furniture

Sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 870/Kpts/OT.050/K/6/2017, pemasukan produk kayu berupa furniture yang telah diproses sempurna (fully processed) tidak dikenakan tindakan karantina karena bukan termasuk media pembawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) (.pdf7).

 

  • Pemasukan media pembawa dari negara endemis kumbang khapra (Trogoderma granarium)

Media pembawa yang berasal dari negara endemis T. granarium harus diberi perlakuan fumigasi Methyl Bromida (CH3Br) dengan dosis 80 g/m3 selama 24 jam pada suhu >200C, atau Fosfin (PH3) dengan dosis 5 g/m3 selama 120 jam pada suhu >200C sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Badan Karantina Pertanian dan dinyatakan dalam kolom treatment pada Phytosanitary Certificate.

 

  • Pemasukan media pembawa dari negara endemis penyakit South Asia Leaf Blight (SALB) yang disebabkan oleh Microcyclus ulei

Media pembawa yang berasal dari negara endemis M. ulei harus memenuhi persyaratan karantina tumbuhan dan kewajiban tambahan (pdf8.).

 

  • Pemasukan umbi kentang segar dari Amerika Serikat

Pemasukan umbi kentang segar dari Amerika Serikat harus memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam "Phytosanitary Protocol for the Exportation of Fresh Potatoes for Consumption from United States to Indonesia between the Animal and Plant Health Insepction Service Department of AGriculture the United States of Amerika and Indonesian AGricultural Quarantine Agency, MInistry of Agriculture Republic of Indonesia" (Eng; Ind)

 

  •  PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN (PSAT)

Pemasukan PSAT untuk diedarkan harus memenuhi keamanan PSAT, meliputi cemaran kimia dan cemaran biologi yang tidak melampaui batas maksimum.  Lampiran I Permentan No.55 tahun 2016 tentang cemaran kimia, cemaran biologi, batas maksimum, dan jenis PSAT (PDF).

Pemasukan PSAT dapat berasal dari negara yang:

1. Memiliki sistem pengawasan keamanan pangan yang telah diakui (Rekognisi)

    Persyaratan:

  1. Wajib menyertakan keterangan PSAT (prior notice) yang diterbitkan oleh eksportir di negara asal atau kuasanya di negara asal.  (Format Prior notice PDF).
  2. Jika PSAT transit di suatu negara dan terjadi pengurangan volume PSAT, wajib menyertakan keterangan PSAT (prior notice) dan keterangan PSAT transit (prior notice for transit) yang diterbitkan eksportir di negara transit atau kuasanya di negara transit.  (Format Prior Notice for Transit PDF)    
  3. Keterangan PSAT (prior notice) dan keterangan PSAT transit (prior notice for transit) wajib disampaikan oleh eksportir/kuasanya secara online melalui portal resmi Badan Karantina Pertanian atau secara manual. 

2.  Memiliki laboratorium penguji keamanan PSAT yang telah diregistrasi

     Persyaratan:

  1. Wajib menyertakan keterangan PSAT (prior notice)
  2. Wajib menyertakan sertifikat hasil uji (Certificate of Analysis) yang diterbitkan oleh laboratorium penguji keamanan PSAT yang telah diregistrasi.  Penulisannya menggunakan bahasa Inggris, minimal memuat tentang identitas PSAT, identitas pemilik, identitas kiriman (consignment), tanggal pengujian, metode pengujian, nomor dan tanggal sertifikat serta hasil pengujian.
  3. Hasil pengujian harus lebih kecil atau sama dengan batas maksimum residu dan/atau cemaran yang telah ditetapkan dalam Lampiran I Permentan No.55 tahun 2016.

3.  Sistem pengawasan keamanan PSAT belum diakui atau memiliki Lab Penguji Keamanan PSAT  yang belum diregistrasi

     Persyaratan:

  1. Wajib menyertakan keterangan PSAT (prior notice)
  2. Wajib menyertakan sertifikat keamanan pangan, menggunakan bahasa Inggris dan diterbitkan oleh lembaga sertifikasi terakreditasi atau Otoritas Kompeten Keamanan PSAT dari negara asal. 

 

  • PEMASUKAN AGENS HAYATI

Agens hayati adalah Setiap organisme yang meliputi spesies, sub spesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma serta organisme lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluan lainnya.

Syarat untuk Memperoleh Izin Pemasukan

  1. orang atau badan hukum berdomisili di dalam wilayah negara Republik Indonesia;
  2. orang atau badan hukum memiliki sarana dan peralatan yang dapat dipergunakan untuk menyimpan dan mengelola  agens hayati dengan baik;
  3. orang atau badan memiliki tenaga ahli yang sekurang-kurangnya berijazah sarjana dan/atau sederajat dalam bidang ilmu terkait;
  4. dilengkapi dengan surat keterangan yang menyatakan bahwa agens hayati tersebut diproduksi dan/atau dikirim oleh orang atau badan hukum yang diberi izin untuk itu oleh lembaga yang berwenang di negara asalnya;
  5. dilengkapi informasi dari produsen bahwa agens hayati tersebut diperoleh dan/atau diproduksi menurut cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya;
  6. agens hayati tersebut tidak membahayakan hewan, ikan, tumbuhan, keselamatan dan kesehatan manusia serta lingkungan;

Prosedur Pengajuan Permohonan Izin

  1. Orang atau badan hukum mengajukan permohonan izin secara tertulis kepada Menteri Pertanian melalui Ketua Komisi Agens Hayati (Ketua KAH saat ini : Kabarantan)
  2. Permohonan izin memuat informasi antara lain :
  1. nama dan alamat orang atau badan hukum yang akan memasukkan agens hayati;
  2. nama dan alamat pengirim dan/atau produsen agens hayati di luar negeri;
  3. tujuan pemasukan;
  4. negara asal agens hayati;
  5. nama umum, nama ilmiah dan nama dagang agens hayati;
  6. jumlah agens hayati yang akan dimasukkan;
  7. sarana, peralatan dan kualifikasi tenaga yang dimiliki oleh orang atau badan hukum tersebut;
  8. wadah atau kemasan yang digunakan;
  9. cara pengangkutan;
  10. perkiraan tanggal pemasukan;
  11. tempat pemasukan;
  12. tindakan-tindakan pengamanan yang akan dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi dan/atau terlepasnya agens hayati;
  13. stadia perkembangan; dan
  14. dilengkapi dengan surat keterangan yang menyatakan agens hayati diproduksi dan/atau dikirim oleh orang atau badan hukum yang diberi izin untuk itu oleh lembaga yang berwenang di negara asalnya dan informasi dari produsen bahwa agens hayati tersebut diperoleh dan/atau diproduksi menurut cara-cara yang  dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya

Pemasukan Agens hayati Baru dan Untuk yang Pertama Kali

Wajib disertai dengan informasi :

  1. biologi agens hayati;
  2. hasil penelitian yang pernah dilakukan di negara asalnya dan/atau negara lain;
  3. manfaat dan laporan pengkajian  tentang dampak negatif yang ditimbulkan dalam penggunaan agens hayati tersebut di negara asalnya dan/atau negara lain;
  4. langkah-langkah penanggulangan yang telah dilakukan untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan agens hayati tersebut di negara asalnya dan/atau  negara lain;
  5. musuh alami, antagonis serta kompetitor agens hayati tersebut;
  6. habitat asal, karakteristik serta spesifikasi agens hayati tersebut;
  7. cara penangkaran dan/atau produksi agens hayati tersebut
  8. Apabila keterangan dianggap belum cukup sebagai bahan pertimbangan untuk menerima atau menolak izin, maka kepada pemohon diwajibkan mendatangkan contoh agens hayati yang akan dimasukkan untuk diteliti dan diuji
  9. Izin untuk mendatangkan contoh agens hayati termasuk tempat pemasukannya diberikan oleh Menteri atas usul Ketua Komisi Agens Hayati
  10. Penelitian atau pengujian tidak perlu dilakukan terhadap jenis-jenis agens hayati yang sebelumnya sudah pernah dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia
  11. Kepala Badan Karantina Pertanian atas saran Komisi Agens Hayati menunjuk ahli untuk melakukan penelitian dan pengujian yang dilakukan di tempat yang ditunjuk.
  12. Apabila dari hasil penelitian dan pengujian ternyata agens hayati tersebut dapat memberikan manfaat sesuai dengan peruntukannya serta tidak membahayakan hewan, ikan, tumbuhan, keselamatan dan kesehatan manusia serta lingkungan, maka hasil penelitian dan pengujian tersebut dijadikan bahan rekomendasi bagi Menteri Pertanian untuk memberikan izin pemasukan.
  13. Apabila dari hasil penelitian dan pengujian ternyata bahwa agens hayati tersebut tidak dapat memberikan manfaat sesuai dengan peruntukannya serta membahayakan hewan, ikan, tumbuhan, keselamatan dan kesehatan manusia serta lingkungan, maka hasil penelitian dan pengujian tersebut dijadikan bahan rekomendasi bagi Menteri Pertanian untuk menolak permohonan izin pemasukan agens hayati tersebut.
  14. Izin pemasukan agens hayati diberikan dalam bentuk Keputusan Menteri, sedangkan penolakan permohonan izin pemasukan agens hayati diberikan dalam bentuk surat penolakan.
  15. Dalam Keputusan izin pemasukan agens hayati, dicantumkan syarat-syarat teknis pemasukan yang harus dipenuhi sesuai dengan jenis agens hayati yang bersangkutan, sedangkan dalam surat penolakan permohonan izin pemasukan agens hayati disebutkan alasan-alasan penolakannya

Tata Cara Pemasukan dan Tindakan Karantina

Setiap pemasukan agens hayati harus disertai dengan surat keterangan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di negara asalnya yang menerangkan bahwa syarat-syarat teknis pemasukan yang tercantum dalam surat izin pemasukannya telah dipenuhi.

Melalui tempat pemasukan yang ditetapkan :  

  1. Pelabuhan Laut : Belawan, Boom Baru. Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar
  2. Pelabuhan Udara : Polonia (Kualanamu), Sultan Mahmud Badaruddin II, Soekarno – Hatta, Juanda, Hasanuddin
  3. Kantor Pos : Medan, Palembang, Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang

 

Alur Proses Perizinan Pemasukan Agens Hayati (Sesuai Kepmentan No. 411 Tahun 1995)

Tindakan Karantina Terhadap Pemasukan Agens Hayati

 

Persyaratan lengkap pemasukan beberapa komoditas pertanian yang telah ditetapkan Badan Karantina Pertanian silahkan klik disini

Detail information for the importation of plant commodities please click here