Analisa Resiko


Perdagangan  komoditas  pertanian  antar  negara  pada  satu  sisi  memberikan dampak  positif  bagi  perolehan  devisa  dan  pembangunan perekonomian suatu  negara. Pada  sisi  lain,  disadari atau  tidak,  perdagangan  antar  negara  juga  memiliki  risiko terhadap  berpindahnya  organisme  pengganggu  tumbuhan  (OPT)  dan invasive  alien spesies  (IAS)  dari  suatu  negara  ke  negara  lain  melalui  komoditas  pertanian/media
pembawa yang diperdagangkan.


Berkaitan dengan adanya risiko berpindahnya OPT menyebabkan banyak negara memberlakukan  persyaratan  fitosanitari  terhadap  komoditas  impor  agar  bebas  dari infestasi  OPT  yang  tidak  dikehendaki  oleh  negara  bersangkutan.    Pengenaan persyaratan fitosanitari harus dilakukan berdasarkan justifikasi ilmiah yang merujuk pada standar,  pedoman,  dan  rekomendasi  teknis  yang  dikeluarkan  oleh  organisasi internasional  dan merujuk  pada  ketentuan  internasional  sebagaimana  diatur  dalam Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS Agreement) dalam WTO.


Secara umum, persyaratan fitosanitari yang  dikenakan  merupakan hasil Analisis Risiko  Organisme  Pengganggu  Tumbuhan  (AROPT).    Dalam  menyusun  AROPT diperlukan  informasi  penting  terkait  dengan  status  komoditas  yang  akan  diimpor  dan data  keberadaan  suatu  OPT  di  negara  asalnya,  khususnya  data  tentang  besarnya kerusakan  dan  kerugian  secara  ekonomi  yang  ditimbulkan,  daerah  sebar  dan  biologi OPT  bersangkutan.    Data  tersebut  dapat  diperoleh  dari  berbagai  sumber,  diantaranya lembaga  yang  diberi  otoritas    atau  melalui  Organisasi  Perlindungan  Tanaman  negara bersangkutan atau National Plant Protection Organization (NPPO).

 

Pelaksanaan AROPT sudah dilakukan terhadap rencana pemasukan suatu benih impor untuk pertamakali (PRA by pathway) ataupun terhadap suatu OPT/OPTK (PRA by pest). Penyusunan AROPT dilakukan oleh fungsional POPT, yang selanjutnya dibahas oleh tim dan pakar dari perguruan tinggi atau lembaga lain. Lama waktu penyusunan bervariasi, bergantung dari risiko media pembawa dan ketersediaan informasi teknis terkait. AROPT juga dilakukan terhadap komoditas produk pertanian, misalnya buah segar, untuk melakukan pengelolaan risiko masuk dan tersebarnya OPT/OPTK melalui komoditas yang dilalulintaskan. Penyusunan analisis risiko didasarkan pada pedoman analisis risiko OPT by pathway, by pest, dan Import Risk Analysis (IRA).

 

Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati melakukan analisis risiko terhadap beberapa komoditas, diantaranya:

  1. Benih jagung asal New Zealand
  2. Benih jagung asal Kolombia
  3. Benih jagung asal Afrika Selatan
  4. Umbi amaryllis asal Belanda
  5. Planlet tebu asal Australia
  6. Bibit Acer palmatum asal Cina
  7. Bibit anyelir asal Jepang (ongoing)
  8. Stek anggur asal Italia (ongoing)
  9. Benih jagung asal Hawaii (USA) (ongoing)
  10. Umbi kentang asal Polandia (ongoing)
  11. Benih melon asal USA (ongoing)
  12. Benih semangka asal USA (ongoing)
  13. Pohon cemara asal Jepang (ongoing)
  14. Buah anggur asal Chile
  15. Buah Anggur asal Mexico
  16. Buah ceri asal Canada
  17. Buah mangga asal Filipina
  18. Buah nanas asal Filipina
  19. Buah jeruk asal Spanyol
  20. Kopi asal Nicaragua

 

Sedangkan analisis risiko by pest yang telah dilakukan, diantaranya:

  1. Pantoea stewartii
  2. Bursaphelenchus xylophilus
  3. Clavibacter michiganensis subsp. michiganensis
  4. Aceria guerreronis
  5. Chaetocnema pulicaria
  6. Nematoda sista kuning
  7. Lethal yellowing
  8. Barley Yellow Dwarf Virus
  9. Tilletia spp.
  10. Fusarium oxysporum fsp. elaeidis
  11. Pseudomonas viridiflava