Mentan SYL Ajak Tujuh Rektor Perkuat Sistem Perkarantinaan

Administrator 30 Agustus 2020 189

Rilis Kementan, 28 Agustus 2020
Nomor : 1159/R-KEMENTAN/08/2020

 

Jakarta - Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak tujuh rektor dari Perguruan Tinggi di Wilayah Timur tanah air untuk memperkuat sistem perkarantinaan pertanian.

Hal ini disampaikan pria yang biasa disapa SYL ini saat menyaksikan penandatangan kerjasama Badan Karantina Pertanian (Barantan) dengan perguruan tinggi tersebut secara virtual di Agriculture War Room, Jakarta (28/8).

"Bioterorism ancaman yang patut diwaspadai, kemudian biosensing dan biosecurity adalah kebutuhan diberbagai aspek kehidupan. Tumbuhan, hewan dan produknya yang masuk apalagi dengan impor-impor yang ada. Dan memang kehidupan ini penuh dengan dinamika dan timbal balik. Untuk itu biosecurity kita harus aman, kalau tidak, ini berbahaya.” ungkap Mentan.

Menurutnya, pesatnya perkembangan saat ini, maka Barantan tidak lagi hanya menjaga sumber daya alam hayati dari hama penyakit hewan dan tumbuhan. Dan kini potensinya meningkat akibat arus lalu lintas manusia dan media pembawa baik hewan dan tumbuhan yang juga terus meningkat.

Dan ini, tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa-biasa, harus ada terobosan, harus ada inovasi. Untuk inilah kerjasama dengan dunia pendidikan baik nasional maupun internasional sangat dibutuhkan.

"Inovasi biosensor untuk mendeteksi cepat hama penyakit hewan dan tumbuhan sangat dibutuhkan, karena dengan lalu lintas yang tinggi, pemeriksaan juga harus akurat, jika tidak maka hama penyakit bisa masuk dan mengancam sumber daya alam hayati kita," papar Mentan lagi.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu yang hadir sebagai salah satu dari tujuh perguruan tinggi menyampaikan kesediaannya untuk turut mendukung harapan Mentan terkait pengembangan inovasi dibidang biosensor. "Kami siap berkolaborasi Pak Menteri baik dengan Barantan dan Balitbangtan, terlebih diwilayah timur ini kaya akan sumber daya alam hayati yang harus dilindungi," ujarnya.

Sementara, Dr. Meky Sagrim, Rektor Universitas Papua menyebutkan saat ini petani diwilayahnya sangat menbutuhkan bantuan akibat serangan hama pada tanaman Kakao. "Beberapa tahun lalu kami bisa ekspor, sekarang tidak lagi karena hama.
Untuk itu kerjasama dengan Barantan ini sangat kami apresiasi, semoga petani di Papua dapat segera kembali bersemangat bertanam Papua dan bisa ekspor lagi," katanya.

Selain dua perguruan tinggi tersebut, berikut lima perguruan tinggi yangbmenandatangi nota kesepahaman yakni Universitas Cendrawasih, Universitas Gorontalo, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Alhaairat dan Universitas Tadulako.

Implementasi Kerjasama untuk Pertanian Modern

Kepala Barantan, Ali Jamil yang didampingi Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Juanedi sesaat setelah melakukan penandatanganan kerjasama ini menyampaikan bahwa implementasi kerjasama juga berupa penguatan laboratorium dan peningkatan kompetensi SDM dikedua belah pihak.

Lebih lanjut Jamil menyebutkan pelaksanaan tindakan karantina dalam kegiatan ekspor dan impor perlu didukung dan didasari oleh justifikasi ilmiah yang bersumber dari lembaga-lembaga riset diantaranya perguruan tinggi.

Penguatan justifikasii ilmiah juga digunakan untuk pelaksanaan perkarantinaan dalam rangka perlindungan sumber daya alam hayati seperti IAS (Invasive Alien Species) dan SDG (Sumber Daya Genetik).

“Era sekarang ini kebijakan tarif tidak lagi populer sehingga kebijakan teknis sanitari dan fitosanitari menjadi penentu dalam ekspor produk pertanian. Untuk itu Barantan yang bertugas menjamin pemenuhan persyaratan SPS negara tujuan ini berperan sangat strategis,” tutup Jamil.

 


Related Post