Media Pembawa Lain: Karantina Pertanian Lakukan Evaluasi

Administrator 09 April 2021 63



Ciawi (9/04) Media pembawa lain (MPL) pada Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992, hanya sebatas pada media yang terbawa alat angkut yang wajib dilakukan pemusnahan. Sedangkan makna MPL pada Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019 lebih meluas, tidak hanya mencakup jenis-jenis komoditas yang sebelumnya masuk golongan ”Benda Lain” saja, namun dimungkinkan mencakup media yang terbawa oleh alat angkut, ataupun bahan pakan dan pakan asal serangga dan produk serangga.

Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina Pertanian selenggarakan Workshop Media Pembawa Lain (MPL) di Ciawi (7-9/04). Hasil evaluasi data lalu lintas komoditas karantina hewan periode Januari – Desember 2020, ditemukan bahwa komoditas MPL untuk jenis sediaan biologi, premiks, maupun feed additif yang dilalulintaskan sangat beragam baik dalam jenis, nama merk dagang, nama produk dan peruntukannya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peningkatan kebutuhan dalam industri pakan ternak, pangan, farmasi, kosmetik, peternakan, pertanian, dan lain-lain.

Selain itu juga ditemukan jenis komoditas serangga dan stadia pertumbuhannya yang digunakan sebagai pakan ternak dan hewan kesayangan, antara lain siput, kecoak, lipan, bekicot, nyamuk, semut, jangkrik, cecak, tokek, cacing, ulat, dan kroto. Golongan lain adalah feses unggas, baik yang telah maupun belum terfermentasi, yang sengaja dilalulintaskan sebagai pupuk, dan feses kelelawar yang digunakan sebagai pakan dan pupuk

Melihat fakta tersebut, mutlak, penyelenggaraan karantina dengan pendekatan risiko didasari landasan ilmiah merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi, sebagai antisipasi terhadap ancaman risiko pembawa hama penyakit hewan karantina.

Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian melalui fasilitas teleconference menyampaikan, "Karantina Pertanian harus segera mengidentifikasi jenis jenis MPL yang berpotensi maupun yang tidak berpotensi menyebarkan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), sesuai Undang Undang No 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Selain memberikan kepastian tanpa ragu kepada pengguna jasa karantina, juga dapat dipertanggungjawabkan oleh pejabat karantina hewan dalam melakukan tindakan karantina."

Kehadiran narasumber regulasi dari Subdit Pengawasan Obat Hewan Ditjennakeswan, Ni Made Ria Isriyanthi, serta narasumber teknis keilmuan dari IPB, Okti Nadia Poetri dan Upik Kesumawati H, memberikan pencerahan terhadap potensi bahaya jenis komoditas bahan biologi maupun pakan hewan kesayangan berasal dari serangga dan produknya.

Narasumber praktisi ekspor impor bahan biologi dari Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI, drh. Andi Wijanarko, memberikan penjelasan terhadap cara baca nomor registrasi bahan biologi pada label kemasan, juga cara baca dokumen penyerta yaitu Master Sheet Data Sheet (MSDS), Pathogen Sheet Data Sheet (PSDS), Certificate of Analysis (CoA), Certificate of Origin (CoO). Serta memberikan contoh produk bahan biologi yang beredar. Informasi/isu terkini dunia terkait bahan biologi juga didapat dari Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), dan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet)

Pencerahan terkait regulasi dan keilmuan serta praktek pelaku usaha dari narasumber diharapkan membuka wawasan dan menambah keilmuan terkini pada peserta dari Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian (UPT KP) seluruh Indonesia dan Tim Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani (KH Kehani) dalam menyusun jenis-jenis dan penggolongan MPL, serta rekomendasi tindakan karantinanya. Hasil Workshop diharapkan akan menjadi rekomendasi penetapan jenis MPL pada revisi Keputusan Menteri Pertanian No. 3238 tahun 2009, penyusunan Rancangan Peraturan Perundangan (RPP) dan penyempurnaan database MPL.

Dalam rangkaian Workshop ini, Kepala Badan Karantina Pertanian yang diwakili Agus Sunanto, Kepala Pusat KH Kehani menyampaikan sertifikat penghargaan kepada lima dokter hewan karantina sebagai kontributor inventarisasi data MPL terbaik. Mereka adalah dokter hewan karantina dari Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Karantina Pertanian Semarang, Karantina Pertanian Mataram, Karantina Pertanian Bandung, dan Karantina Pertanian Pekanbaru. Selain itu sertifikat apresiasi diberikan kepada seluruh UPTKP.

Profesional tanpa batas, tanpa ragu, dan melangkah pasti menuju karantina maju modern, dan mandiri

#PusatKH
#LaporKarantina


Related Post