Tingkatkan Kompetensi AROPT, Karantina Pertanian Jalin Kerja Sama dengan Belanda

Administrator 16 April 2021 142

Jakarta - Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati (KTKHN) menjalin kerja sama dengan Netherlands Food and Consumer Product Safety Authority (NVWA) – Ministry of Agriculture, Nature and Food Quality. Hal ini untuk meningkatkan kompetensi pejabat Karantina Pertanian lingkup KTKHN dan 52 unit pelaksana teknis (UPT) lingkup Badan Karantina Pertanian dalam analisa risiko organisme pengganggu tumbuhan (AROPT).

Analisa risiko OPT yang berpotensi terbawa media pembawa atau komoditas pertanian merupakan salah satu upaya untuk cegah tangkal OPTK (organisme pengganggu tumbuhan karantina). Kerusakan pada sektor pertanian akan berdampak terhadap perekonomian suatu negara.

Jos van Meggelen perwakilan dari Netherlands Food and Consumer Product Safety Authority (NVWA) – Ministry of Agriculture, Nature and Food Quality memaparkan tentang "PRA Process in Europe".

"Analisa risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penting bagi suatu negara. Pemasukan hama bisa terjadi dalam berbagai cara. Di antaranya pemasukan media pembawa itu sendiri. Bahkan melalui cara yang tidak biasa, yakni aktivitas manusia, alat transportasi, kendaraan perang, dan lainnya," terang Jos dalam Lokakarya Pest Risk Analysis (PRA), Selasa (6/4).

Oleh karena itu, Jos menjelaskan, analisa harus dilakukan secara komprehensif. Segala kemungkinan OPT masuk harus didata. Didukung dari data hama itu sendiri, bagaimana penyebaran dan media pembawanya.

"Proses analisa risiko OPT di Belanda yang mengacu pada EPPO (Europe and Mediterranean Plant Protection Organitazion-red) ada tiga besar yakni inisiasi, asesmen, dan manajemen risiko hama. Ini berdasarkan ISPM 11 yang relevan dengan elemen risiko mengenai kemungkinan tempat pemasukan, menetap, penyebaran, dan dampaknya dari hama," ungkap Jos.

Pada pertemuan pertama Kamis (1/4) lalu, perwakilan dari Karantina Pertanian Jati Adiputra memaparkan proses AROPT di Indonesia. Pembicara dari Belanda juga hadir Marieke Florijn dengan memaparkan mengenai "Presentation on Introduction of the Express PRA of EPPO”.

Pertemuan kedua tim dari Karantina Pertanian Uji Standar memaparkan hasil AROPT jenis virus pada benih kentang. Enam kelompok lainnya pun mendapatkan penugasan untuk menganalisa berdasarkan jenis hama dan penyakit pada Kentang.

Karantina Pertanian Belawan menganalisa jenis serangga, Uji Terap dan Metode jenis tungau, Makassar jenis cendawan, Soekarno-Hatta jenis nematoda, Tanjung Priok jenis bakteri, dan Surabaya jenis gulma.

Rangkaian lokakarya akan berlangsung kembali pada 20 Mei 2021 mendatang sekaligus penutupan.


Related Post