Peringati Hari Kesehatan Tumbuhan Sedunia, Barantan Gelar Pertemuan NPPO

Administrator 13 Mei 2022 63

Bogor – Peringatan Hari Kesehatan Tumbuhan Sedunia untuk pertama kali pada tanggal 12 Mei 2022 ditandai dengan pertemuan National Plant Protection Organization (NPPO) yang diselenggarakan oleh Badan Karantina Pertanian selaku Focal Point NPPO Indonesia. Pertemuan bertujuan untuk memperkuat sinergisitas dalam perlindungan tumbuhan di antara para pemangku kepentingan di Indonesia.

“Pertemuan ini dilangsungkan untuk membahas isu perlindungan tumbuhan nasional, termasuk pelaksanaan tugas dan fungsi NPPO, termasuk kajian naskah ISPM (International Sanitary and Phytosanitary Measure, red) yang akan ditetapkan oleh International Plant Protection Convention (IPPC, red),” ujar A.M. Adnan Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati dalam pembukaan pertemuan di Bogor, Kamis (12/5).

Adnan menambahkan, pertemuan juga untuk digunakan untuk menyebarluaskan informasi berkaitan dengan ketentuan atau standar regional maupun internasional di bidang perlindungan tumbuhan, serta membahas berbagai isu perlindungan tumbuhan nasional bersama dengan anggota NPPO Indonesia lainnya, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Perlindungan Perkebunan, dan Direktorat Perlindungan Hortikultura, serta pihak terkait lainnya.

Implementasi perlindungan tumbuhan dilakukan oleh masing-masing eselon di Kementerian Pertanian sesuai ranahnya. Salah satu indikator keberhasilan dalam perlindungan tumbuhan yaitu tidak adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) baru di wilayah Indonesia.

“Tidak adanya temuan OPTK di wilayah Indonesia merupakan pencapaian dari NPPO Indonesia dalam perlindungan tumbuhan. Semakin terbukanya akses transportasi tentunya juga meningkatkan risiko terbawanya OPTK pada media pembawa atau komoditas pertanian khususnya tumbuhan dan produk turunannya,” tutur Adnan.

Adnan juga menambahkan bahwa peringatan Hari Kesehatan Tumbuhan Sedunia yang pertama ini dapat dijadikan sebagai momentum meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perlindungan tumbuhan untuk membantu menghentikan kelaparan, mengurangi kemiskinan, melindungi keanekaragam hayati dan lingkungan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tumbuhan merupakan komoditas yang paling banyak menjadi sumber pangan manusia dan berperan dalam perekonomian nasional suatu negara. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) PBB menyebutkan tumbuhan menyediakan bahan baku makanan sebesar 80% dan 98% oksigen yang manusia hirup. Namun, setiap tahunnya tumbuhan mengalami ancaman kehilangan hingga 40% untuk tanaman pangan karena hama dan penyakit tanaman.

“Peran masyarakat sangat penting untuk perlindungan tumbuhan kita. Dalam konteks karantina tumbuhan, kesadaran pemilik komoditas untuk melaporkan kepada pejabat karantina tumbuhan di tempat pengeluaran dan pemasukan sebelum melalulintaskannya, baik antararea maupun antarnegara. Hal ini untuk memastikan kesehatan tumbuhan dan tidak membawa OPTK,” pungkas Adnan.

Turut hadir dalam pertemuan NPPO Indonesia hingga Jumat (13/5) ini, Direktur Perlindungan Perkebunan Baginda Siagian dan Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Muhammad Takdir Mulyadi, serta pemangku kepentingan lainnya seperti akademisi, Biro Kerja Sama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, Direktorat Pupuk dan Pestisida Ditjen PSP, dan Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Related Post