Antisipasi Masuknya ASF, Barantan Tingkatkan Sinergitas

Administrator 15 November 2019 206

Tangerang - African Swine Fever (ASF) atau sering disebut Demam Babi Afrika merupakan virus yang sangat menular pada babi sehingga dapat mengakibatkan kematian babi yang sangat tinggi hingga mencapai 100 persen. Virus ini tidak menular kepada manusia (tidak zoonosis). Sampai sekarang virus ASF ini belum ada di Indonesia dan juga belum ditemukan obat maupun vaksin untuk menangkalnya.

“Walaupun ASF tidak menular kepada manusia namun jika ASF masuk ke Indonesia, maka peternakan babi Indonesia akan terancam kerugian yang tinggi akibat kematian babi serta hilangnya potensi ekspor ke negara lain, bahkan peternak babi pun bisa kehilangan mata pencariannya. Belum lagi dengan pemerintah yang harus keluarkan biaya besar untuk pemberantasan dan penanggulangan wabah serta kompensasinya. Sektor pariwisata pun akan terganggu dan tentunya menjadi ancaman bagi plasma nutfah asli Indonesia,” ungkap drh Iswan Haryanto, MSi Kepala Bidang Produk Hewan, mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian pada saat acara pembukaan kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Antisipasi Masuknya Virus ASF yang diselenggarakan pada tanggal 14 November 2019 di Hotel Swiss Bell Tangerang.

Akhir-akhir ini penyebaran penyakit ASF ini semakin meluas dan sudah mewabah di negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia yaitu Filipina dan Timor Leste. Hal ini menuntut kewaspadaan dan respon dini dari semua pemangku kepentingan yang terkait. Oleh karenanya, melalui kegiatan sosialisasi ini Badan Karantina Pertanian (Barantan) perlu meningkatkan sinergitas dengan instansi interkait seperti Otoritas Bandara dan Pelabuhan, PT. Angkasa Pura, PT. Pelindo, Perusahaan Katering pesawat udara dan kapal, Maskapai Penerbangan, Bea Cukai, serta Imigrasi.

Menurut Iswan, “virus ASF dapat bertahan hidup lama di suatu lingkungan sehingga sangat perlu diperhatikan media pembawa virus ini beserta tempat pemasukannya, karena masuknya ke suatu negara dapat melalui babi hidup, daging dan produknya, orang atau alat yang tercemar virus ASF, sisa katering yang disediakan , alat transportasi dan sisa makanan yang dibawa oleh penumpang. Sedangkan Bandar udara internasional dan pelabuhan laut serta daerah perbatasan merupakan tempat pemasukan (entry point). Untuk itu sangat diperlukan sinergitas dengan instansi terkait tersebut dalam melakukan pemusnahan sehingga virus ASF ini dapat diantisipasi masuk ke Indonesia”.

“Dengan dimusnahkannya media pembawa virus ASF seperti sisa katering pesawat udara maupun kapal serta sisa makanan yang dibawa penumpang di tempat pemasukan, tidak ada lagi peluang dijadikan pakan ternak babi (swill feeding), karena sisa katering pesawat maupun kapal serta sisa makanan yang dibawa penumpang khususnya dari negara tertular merupakan salah satu rute masuknya virus ASF ke suatu negara,” Papar Dr. drh. Tri Satya Naipospos, Narasumber kegiataan Sosialisasi.

Narasumber Iman Priambodo, Inspektur Bandar Udara Level IV menyampaikan dalam paparannya bahwa, “Otoritas Bandar Udara Wilayah II Soekarno Hatta siap mendukung karantina dalam antisipasi masuknya beberapa penyakit hewan yang tidak ada di Indonesia”.

Selesai pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi terakhir yaitu diskusi yang dipimpin oleh drh. Sri Endah Ekandari, MSi sebagai Ketua Panitia dengan membentuk grup bandar udara dan pelabuhan dengan output harmonisasi SOP penanganan sampah yang nantinya ditindaklanjuti dalam bentuk perjanjian bersama ataupun nota kesepahaman.

Turut hadir dalam acara sosialisasi ini Kepala Kantor Otoritas Bandara Wilawal II Soekarno Hatta, Eksekutif General Manajer Angkasa Pura II Soekarno Hatta dan Halim Perdana Kusuma, Direktur Teknis Kepabeanan, Bea dan Cukai, PT Pelindo, Otoritas pelabuhan Tanjung Priok, Ditjen Peternakan dan Keswan, Pejabat Struktural dan Fungsional Lingkup Badan Karantina Pertanian.


Related Post