Karantina Pertanian, ASEANET dan JAIF Bekerjasama Bina Nematologist ASEAN

Administrator 28 Februari 2020 312

Bekasi – Kepala Badan Karantina Pertanian diwakili oleh Kepala Bidang Tumbuhan Benih Pusat Karantina Tumbuhan dan Kehati, Maman Suparman, membuka acara “Training Workshop on Diagnostic of Plant Parasite Nematodes” di Balai Uji Terap Teknik dan Metoda Karantina Pertanian (BUTTMKP) (24/2). Workshop ini merupakan hasil kerjasama antara Badan Karantina Pertanian (Barantan), Asean Network of Taxonomy (ASEANET) dan disponsori oleh Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF).

 

“Training Workshop on Diagnostic of Plant Parasite Nematodes menjadi pembuka pelatihan-pelatihan yang akan dilaksanakan BUTTMKP di tahun 2020 ini. BUTTMKP sudah dikenal di ASEAN dan ASIA Pasific sebagai training center di bidang perkarantinaan. Sudah banyak pelatihan internasional yang dilaksanakan di BUTTMKP sampai saat ini” jelas Maman.

 

Peserta akan mengikuti training selama 2 minggu sejak tanggal 22 Februari – 7 maret 2020. Peserta workshop sebanyak 20 orang berasal dari 10 Negara ASEAN antara lain Brunei, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Laos, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam serta diikuti 3 observer dari Indonesia.

 

PPNs Nemotoda Produktif, Sukar Diidentifikasi

''Plant-parasitic Nematodes (PPNs) baru pertama kali disampaikan dalam pelatihan di BUTTMKP. Tema ini diambil karena PPNs merupakan hama yang produktif dan sukar diidentifikasi” jelas Maman.

 

''PPNs menyebabkan kerusakan yang serius pada produk pertanian di dunia baik di Negara tropis maupun dingin, terutama di daerah tropis dan subtropics seperti Asia Selatan. PPNs berkembangbiak sangat cepat sehingga menimbulkan gagal panen. Gejala yang ditimbulkan oleh PPNs sukar dibedakan dengan penyebab penyakit tanaman lainnya” jelas narasumber training, Ummu S Rustiani.

 

“Terdapat banyak spesies PPNs seperti nematode simpul akar (Meloidogyne spp.), nematode lesi akar (Pratylenchus spp.), dan nematode kista (Heterodera dan Grobodera spp.). Deteksi dan identifikasi PPNs sangat sukar karena PPNs berukuran sangat kecil dan sukar diidentifikasi, sehingga membutuhkan keahlian khusus untuk mengidentifikasikannya. Di Asia Tenggara ahli mengenai PPNs baru sedikit, oleh sebabnya pembinaan nematologis sangat diperlukan”, tambah Ummu.

 

“Metoda pelatihan yang diberikan dalam training adalah kombinasi dari materi kelas, praktik laboratorium dan kunjungan lapangan. Peserta akan diberikan pengetahuan mengenai ilmu dasar dan teknis nematologi dan PPNs, bagaimana mengidentifikasi spesies PPNs dan cara menanganinya melalui metode kimia, fisik, biologi dan kebudayaan. Pada akhirnya peserta memiliki pengetahuan yang cukup tentang PPNs serta dapat membuat manajemen perencanaan untuk mengkontrol PPNs di Negara masing-masing,” ujar Maman.

 

Pengajar dalam pelatihan terdiri dari kalangan pendidik dan teknis, yakni Prof Hideaki Iwahori dari Ryukoku University Japan, Dr. Marita S. Pinili dari University of Philippines Los Habis, Dr. Nurjanah dan Dr. Ummu S Rustiani dari Badan Karantina Pertanian.


Related Post