Targetkan Ekspor Porang, Karantina Pertanian Bangkalan Gandeng Pemda Sumenep

Administrator 30 Agustus 2021 204

Rilis Barantan
Nomor: 0808/ R-Barantan/08.2021
Bangkalan, 30 Agustus 2021

 

Bangkalan – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Bangkalan melakukan upaya peningkatan ekspor pertanian dengan membidik komoditas potensi ekspor berupa porang.

Porang, bersama dengan sarang burung walet yang saat ini menjadi komoditas ekspor super prioritas pemerintah terus ditingkatkan produktivitasnya baik dari hulu sampai hilir.

Dari data IQFAST, Badan Karantina Pertanian (Barantan) di Karantina Pertanian Bangkalan, komodias andalan ekspor asal pulau Madura masih masih hanya berupa arang briket kelapa.

“Bersama dengan pemerintah daerah Kabupaten Sumenep, kita dorong porang menjadi komoditas andalan ekspor baru. Hal ini sejalan dengan tugas strategis yang diberikan Menteri Pertanian, Bapak Syahrul Yasin Limpo untuk mengawal peningkatan ekspor pertanian, “ujar Agus Mugiyanto, Kepala Karantina Pertanian Bangkalan melalui keterangan persnya, Senin (30/8).

Agus, saat menggelar acara Sosialisasi Budidaya Tanaman Porang beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa Kabupaten Sumenep memiliki lahan sekitar 43 hektar yang menghasilkan katak dan umbi porang. Dengan wilayah sentra di tiga kecamatan, yakni Arjasa, Ambunten, dan Sapeken. Pemerintah Kabupaten Sumenep direncanakan akan mengawal secara khusus budidaya dan pengembangan porang ini agar dapat dijadikan kawasan komoditas ekspor andalan baru.

“Bersama Pemkab Sumenep pengawalan pengelolaan komoditas porang dari hulu hingga hilir akan dilakukan secara menyeluruh hingga dapat bersaing di pasar ekpor,”tambahnya.

Ia juga menerangkan petani akan mendapatkan bibit yang bagus, bantuan modal dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan pasca panen yang dibisa dikelola sendiri oleh masyarakat ataupun masuk ke pabrik. Jika dapat dikelola dengan baik, potensi porang yang ditanam pada 43 hektar tersebut dapat dihasilkan dalam bentuk chip (irisan tipis yang dikeringkan) maka akan mendapatkan nilai ekonomi sebesar Rp. 13,76 miliar.

Sebagai informasi, porang adalah tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus muelleri, orang biasa menyebut dengan nama iles-iles. Porang biasanya dimanfaatkan dengan diolah menjadi tepung yang dipakai untuk bahan baku industri untuk kosmetik, pengental, lem, mie ramen, beras dan lain-lain.

Dewi Khalifah, Wakil Bupati Sumenep pada kesempatan yang sama menyampaikan harapannya agar bimbingan teknis budidaya yang diberikan dapat memberikan wawasan kepada para petani dan pengusaha di bidang pertanian dan produknya dalam hal ketentuan ekspor. “Saya ingin generasi muda hingga ibu ibu dari organisasi keagamaan Sumenep membangun desanya melalui pertanian,” ujarnya.

Sinergisitas Peningkatan Ekspor Pertanian

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang mengapresiasi sinergistasi pemerintah daerah dalam upaya peningkatan ekspor pertanian, seperti halnya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama jajarannya di unit pelaksana teknis Karantina Pertanian Bangkalan.

Bambang menyebutkan, untuk menggali potensi dan peluang ekspor pertanian, pihaknya telah menyiapkan inovasi dan terobosan berupa aplikasi peta potensi komoditas ekspor, IMACE. Aplikasi yang dapat diunduh secara graties dari perangkat telepon selular ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya sentra komoditas pertanian berorientasi ekspor berbasis kearifan lokal.

“Kedepan, selain budidaya porang lakukan juga hilirsasi sehingga dapat memberi nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha. Jika diperlukan, manfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian, atau fasilitas lainnya dan kami siap mengawal, “ pungkas Bambang.

Narahubung :
Agus Mugiyanto, SP
Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan
Badan Karantina Pertanian
Kementerian Pertanian

Rilis Barantan
Nomor: 0808/ R-Barantan/08.2021
Bangkalan, 30 Agustus 2021

Targetkan Ekspor Porang, Karantina Pertanian Bangkalan Gandeng Pemda Sumenep

Bangkalan – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Bangkalan melakukan upaya peningkatan ekspor pertanian dengan membidik komoditas potensi ekspor berupa porang.

Porang, bersama dengan sarang burung walet yang saat ini menjadi komoditas ekspor super prioritas pemerintah terus ditingkatkan produktivitasnya baik dari hulu sampai hilir.

Dari data IQFAST, Badan Karantina Pertanian (Barantan) di Karantina Pertanian Bangkalan, komodias andalan ekspor asal pulau Madura masih masih hanya berupa arang briket kelapa.

“Bersama dengan pemerintah daerah Kabupaten Sumenep, kita dorong porang menjadi komoditas andalan ekspor baru. Hal ini sejalan dengan tugas strategis yang diberikan Menteri Pertanian, Bapak Syahrul Yasin Limpo untuk mengawal peningkatan ekspor pertanian, “ujar Agus Mugiyanto, Kepala Karantina Pertanian Bangkalan melalui keterangan persnya, Senin (30/8).

Agus, saat menggelar acara Sosialisasi Budidaya Tanaman Porang beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa Kabupaten Sumenep memiliki lahan sekitar 43 hektar yang menghasilkan katak dan umbi porang. Dengan wilayah sentra di tiga kecamatan, yakni Arjasa, Ambunten, dan Sapeken. Pemerintah Kabupaten Sumenep direncanakan akan mengawal secara khusus budidaya dan pengembangan porang ini agar dapat dijadikan kawasan komoditas ekspor andalan baru.

“Bersama Pemkab Sumenep pengawalan pengelolaan komoditas porang dari hulu hingga hilir akan dilakukan secara menyeluruh hingga dapat bersaing di pasar ekpor,”tambahnya.

Ia juga menerangkan petani akan mendapatkan bibit yang bagus, bantuan modal dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan pasca panen yang dibisa dikelola sendiri oleh masyarakat ataupun masuk ke pabrik. Jika dapat dikelola dengan baik, potensi porang yang ditanam pada 43 hektar tersebut dapat dihasilkan dalam bentuk chip (irisan tipis yang dikeringkan) maka akan mendapatkan nilai ekonomi sebesar Rp. 13,76 miliar.

Sebagai informasi, porang adalah tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus muelleri, orang biasa menyebut dengan nama iles-iles. Porang biasanya dimanfaatkan dengan diolah menjadi tepung yang dipakai untuk bahan baku industri untuk kosmetik, pengental, lem, mie ramen, beras dan lain-lain.

Dewi Khalifah, Wakil Bupati Sumenep pada kesempatan yang sama menyampaikan harapannya agar bimbingan teknis budidaya yang diberikan dapat memberikan wawasan kepada para petani dan pengusaha di bidang pertanian dan produknya dalam hal ketentuan ekspor. “Saya ingin generasi muda hingga ibu ibu dari organisasi keagamaan Sumenep membangun desanya melalui pertanian,” ujarnya.

Sinergisitas Peningkatan Ekspor Pertanian

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang mengapresiasi sinergistasi pemerintah daerah dalam upaya peningkatan ekspor pertanian, seperti halnya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama jajarannya di unit pelaksana teknis Karantina Pertanian Bangkalan.

Bambang menyebutkan, untuk menggali potensi dan peluang ekspor pertanian, pihaknya telah menyiapkan inovasi dan terobosan berupa aplikasi peta potensi komoditas ekspor, IMACE. Aplikasi yang dapat diunduh secara graties dari perangkat telepon selular ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya sentra komoditas pertanian berorientasi ekspor berbasis kearifan lokal.

“Kedepan, selain budidaya porang lakukan juga hilirsasi sehingga dapat memberi nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha. Jika diperlukan, manfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian, atau fasilitas lainnya dan kami siap mengawal, “ pungkas Bambang.

Narahubung :
Agus Mugiyanto, SP
Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan
Badan Karantina Pertanian
Kementerian Pertanian