Sertifikasi Ekspor Pertanian Meningkat Pesat, Kabarantan Apresiasi Pemda Sumbar

Administrator 24 September 2021 216

#RilisBarantan
Padang, 23 September 2021
No: 2309/R-Barantan/09.2021

Padang - Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Padang memastikan jumlah sertifikasi komoditas pertanian yang meningkat dan berdampak signifikan terhadap kenaikan nilai ekspor komoditas pertanian asal Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) periode Januari hingga Agustus 2021 sebesar 73,6% dibandingkan periode sama di tahun 2020.

Selain kenaikan nilai, juga tercatat adanya peningkatan pada ragam komoditas, negara tujuan dan eksportir.

Berdasarkan data pada IQFAST, Badan Karantina Pertanian (Barantan) di Karantina Pertanian tercatat adanya ragam komoditas pertanian baru, yakni : jengkol, petai, durian, lamtorogung dan kecombrang. Sementara data eksportir baru tercatat bertambah 8 eksportir, dari semula 60 menjadi 68 eksportir.

“Peningkatan ekspor di Sumbar dapat terwujud berkat kerjasama Karantina Pertanian Padang dengan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah Sumbar yang sangat mendukung pertanian," kata Kepala Barantan, Bambang saat beraudiensi dengan Gubernur Sumbar, Mahyeldi di Padang, Kamis (23/9).

Menurut Bambang, pihaknya sangat mengapresiasi turunnya Surat Keputusan Gubernur Sumbar mengenai Tim Percepatan Ekspor, "Ini menambah keyakinan kita semua bahwa target pencapian nilai Gratieks pasti dapat diraih di Sumbar,” ujarnya.

Masih menurut Bambang, kebijakan strategis Kementerian Pertanian untuk meningkatkan ekspor komoditas pertanian tiga kali lipat yakni dengan peningkatan volume ekspor, mendorong pertumbuhan eksportir baru, menambah ragam komoditas ekspor, meningkatkan frekuensi pengiriman dan menambah Negara mitra dagang.

Bambang juga menambahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jika nilai ekspor sektor pertanian masih terjaga positif hingga Agustus 2021, yakni sebesar 7,52% (M to M). Dan dengan momentum pelepasan ekspor pertanian atau merdeka ekspor oleh Presiden dan Menteri Pertanian pada tanggal 14 Agustus yang lalu, maka ini menjadi momentum semangat untuk menjaga capaian target gerakan tiga kali lipat ekspor, Gratieks yang terus di jaga.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Mahyeldi mengatakan bahwa potensi pertanian di Sumbar itu besar. Di wilayah Pariaman, ada potensi hutan sosial yang dimanfaatkan sebesar 500 ribu ha. Potensial sebagai kebun manggis dan kebun kebun lain.

"Kelapa di Sumbar berpotensi, setiap hari batok kelapa 2 truk dikirim ke Riau kemudian di ekspor dari sana, hal ini yang masih kita kondisikan agar bisa di ekapor dari Padang," ujar Mahyeldin

Sebagai informasi, Sumbar memiliki komoditas unggulan yakni Bunga Palo, cengkeh, Gambir, Kakao Biji, Olahan Kelapa, Kopi Biji, Karet, Kulit Kayu Manis, Pinang, PKE, Minyak Sawit, Sawit Cangkang dan Buah Manggis.

Kepala Karantina Pertanian Padang, Iswan Haryanto yang juga mendampingi Kepala Barantan menyebutkan negara tujuan baru untuk komoditas pertanian yang difasilitasi pihaknya yakni cengkeh yang dikirim perdana ke Bangladesh dan Cina, gambir ke Bangladesh dan Taiwan, olahan kelapa ke Hongkong dan Malaysia, kopi biji i ke Perancis dan New Zealand, karet ke Rusia, Korea Selatan dan Sri Lanka, kulit kayu manis ke Ukraina, Inggris, Amerika dan Vietnam, pinang ke Perancis, PKE ke Belanda dan Portugal, minyak sawit ke Argentina dan Ukraina serta buah manggis ke Perancis dan Inggris.

Bersinergi dengan Pengguna Jasa

Dalam kesempatan kunjungan kerja di Propinsi Sumbar, Kepala Badan Karantina Pertanian juga melakukan diskusi dengan 30 pengguna jasa yang telah sukses mengirim produknya ke luar negeri.

Kepada para pengguna jasa, Kepala Badan menyampaikan, personil karantina sejumlah 5.087 orang tidak dapat bekerja sendiri mengamankan SDA Indonesia dari hama penyakit hewan tumbuhan dan meningkatkan ekspor komoditas pertanian, tanpa kerjasama dari pengguna jasa karantina pertanian.

"Bagi negara, eksportir adalah pahlawan dalam peningkatan perekonomian Indonesia," tutup Bambang.

Narahubung:
drh. Iswan Haryanto, M.Si - Kepala Karantina Pertanian Padang, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian